Mengenai Saya

Foto saya
Anak baik2 dari keluarga baik2, berteman dengan orang yang baik2 dan bersekolah di tempat yang baik2.

Senin, 23 Agustus 2010

Microraptor

Genus Microraptor merupakan salah satu jajaran Dinosaurus kecil. Mereka hidup sekitar 120 juta tahun yang lalu dan populasinya tersebar di beberapa wilayah China. Jenis ini umumnya memiliki empat buah sayap dengan satu ekor yang memanjang.
Kendati memiliki dua pasang sayap, Microraptor tidak dapat terbang. Sebaliknya, ia mungkin hanya meluncur dari suatu tempat ke tempat lainnya seperti seekor tupai terbang.
microraptor_3_-tm
Sebagian kalangan evolusionis menganggap hewan ini merupakan makluk peralihan dinosaurus ke burung, dimana dengan kemampuan meluncurnya itu dapat berkembang menjadi sistem penerbangan.
Beberapa peneliti berpendapat, hewan ini kemungkinan banyak menghabiskan hidupnya di pepohonan, merujuk fakta bahwa sayap Microraptor menghalangi kemampuan mereka untuk berjalan di atas tanah.

Amphicoelias fragillimus

Fosil yang sukar dipahami ini ditemukan oleh ahli paleontologi terkenal Edward Drinker Cope. Cope telah banyak menemukan fosil-fosil prasejarah, namun yang satu ini adalah yang paling aneh.
800px-human-amphicoelias_size_comparison-tm
Bagaimana tidak? satu-satunya fosil aneh tersebut ialah potongan tulang belakang yang memiliki panjang keseluruahan diperkirakan 40 - 60 meter. Apabila ukuran ini benar-benar valid, itu menjadikan Amphicoelias fragillimus mungkin merupakan makhluk terpanjang dan terberat yang pernah ada (bersaing dengan paus biru dan  Argentinosaurus).
Namun sekali lagi, fosil tersebut masih banyak menjadi perdebatan karena sulitnya untuk mengidentifikasi dari penemuan fosilnya yang sangat-sangat  minim. Apakah makhluk ini merupakan hewan terbesar yang pernah berjalan di bumi ataukah hanya kesalah pahaman dan hanya sekedar tipuan.

Ibycus Rachelae

Siput ini adalah yang paling unik dari seluruh penemuan terbaru. Selain warnanya yang hijau kekuning-kuningan, siput ini juga memiliki ekor yang panjang. Saat masa perkawinannya hewan ini menembakkan sejenis “panah cinta” kepada pasangannya.

Sharovipteryx

Sharovipteryx merupakan reptil yang hidup sejaman dengan Longisquama, yakni pada pertengahan hingga akhir Triassic. Makhluk purba yang memiliki panjang tubuh sekitar delapan inci dengan berat 7,5 gram ini sangat unik karena ia memiliki ukuran kaki belakang yang sangat lebar dibanding kaki depannya.
Kaki belakang yang begitu lebar, ditambah dengan adanya membran yang tumbuh diantaranya membuat ia seolah-olah memiliki sayap yang dapat digunakan untuk terbang. Walaupun pada kenyataannya hewan ini memang tidak dapat terbang layaknya burung, namun bukan berarti bentangan selaput sayap pada kakinya itu menjadi tidak berguna.
dinocomp-tm
Penelitian terbaru menyebutkan berkat selaput sayap ini, Sharovipteryx dapat lebih gesit pada saat meluncur dari suatu tempat ke tempat lainnya dikarenakan mekanisme kerjanya yang sangat mirip dengan delta wing pada pesawat tempur modern.
 
Beberapa peneliti menganggap hewan ini mungkin memiliki hubungan yang erat dengan pterosaurus mengingat meraka sama-sama memiliki membran penerbangan yang tumbuh diantara kedua kakinya, walaupun hal ini masih sangat kontroversial.

Deinotherium

Deinotherium merupakan salah satu mamalia darat terbesar yang pernah menginjakkan kakinya di Bumi. Makhluk prasejarah yang hidup di kala Miosen tengah hingga awal Pleistosen ini pada umumnya memiliki tinggi 3,5 - 4,5 meter (ukuran Deinotherium dewasa) dengan berat berkisar antara 5 - 14 ton.
deinotherium_small-tm
Deinotherium yang merupakan kerabat dekat gajah modern pada dahulu kala hidup tersebar di beberapa wilayah Asia, afrika, dan Eropa. Bentuk fisiknya tidak jauh berbeda dengan gajah modern, hanya saja ia memiliki belalai yang lebih pendek dan gading yang terletak di rahang bagian bawah.
Gading ini mungkin digunakan sebagai alat untuk menggali tanah untuk  mendapatkan akses ke akar-akaran dan sayuran. Genus Deinotherium memiliki tiga spesies yang telah dikenali, dan semuanya memiliki ukuran yang besar. Spesies itu diataranya Deinotherium giganteus, Deinotherium indicum, dan Deinotherium bozasi.

Jumat, 20 Agustus 2010

Ultraman Tiga

Set in the years 2007-2010 (2049 in the U.S. dub) , giant monsters and conquering aliens start to appear, as was foretold by an apocalyptic prophecy about an uncontrollable chaos over the Earth. Facing the threat, the TPC (Terrestrial Peaceable Consortium) is created, such as its branch, GUTS (Global Unlimited Task Squad). Through a holographic message in a capsule found by researchers, the GUTS gets knowledge about a golden pyramid built by an ancient civilization. At the site, three statues of a race of giants who defended early human civilization on Earth about 30,000,000 years ago from Super-Ancient Monsters and other forces of darkness are found, but two of them are destroyed by the monsters Golza and Melba. The third one gains life from the spiritual energy of officer Daigo, descendant of the ancient race. Daigo and the remaining statue merge into a single being, made of light. Shortly after defeating the two monsters, Daigo is revealed by the hologram of the prophecy that 30 million years in the past, a great evil that not even the giants could stop, destroyed the ancient civilization. The same evil reappears in the finale of the series, the Ruler of Darkness Ghatanothoa, and his servants, Gijera and Zoigar. Ghatanothoa defeats Ultraman with ease and turns him back into a statue, but the light of humanity is able to turn him into Glitter Tiga, giving him the power to defeat Ghatanothoa and save the Earth.

Ultraman Dyna

In the year AD 2017 (nine years after the final episode of Ultraman Tiga), TPC has advanced beyond earth, and has created a new GUTS team, "Super GUTS". Humans have begun terra-forming Mars and other planets in what is known as the "Age of the Neo Frontier". One day, however, the Neo Frontier is attacked by an alien race known as the Spheres. Shin Asuka has just joined Super GUTS and is in the middle of training maneuvers above Earth's atmosphere when he and his comrades are attacked. He proves himself in battle, and can hold his own against ace pilot Ryoh. However, his ship is damaged and he ejects, after which he encounters a shining light. It is then that a new giant of light merges with the bewildered Asuka, saving his life. When the Spheres enter Mars' atmosphere and merge with the Martian rocks to form monsters, Asuka again participates in the battle, now equipped with a mysterious device known as the "Reflasher". Upon the Sphere's new attack, Asuka suddenly transforms into a colossal giant, and manages to protect Mars from a group of monsters sent by the Spheres. The members of Super GUTS quickly catch on that this giant being is not Ultraman Tiga, but a new giant of light, "Ultraman Dyna". In contrast to the serious tone of Ultraman Tiga, Ultraman Dyna is a far more light hearted show, featuring more upbeat stories and goofy character personalities for its cast.
The final story arc is rather somber, in contrast to the rest of the series. Dyna/Asuka apparently sacrifice themselves to save the Earth from Gran Sphere, the planet-sized mother form of the Spheres. Though the fate of Dyna and Asuka is not at all clear from the final episode, we do get to see that Asuka rejoins his father as they ride off toward the light in their two spaceships. It is revealed in Mega Monster Battle: Ultra